November 2015 - skripsi man (dulrohman webs)

Jumat, 27 November 2015

MAKALAH  ILMU PENYIARAN RADIO
Disusun Oleh :
Muhammad Sahibban. A
 

BAB 1 LATAR BELAKANG 

A.PENGERTIAN RADIO KOMUNIKASI


Kata radio berasal dari kata ‘to radiate’ yang mem-punyai arti memancarkan, sehingga menunjukkan bahwa proses komunikasi ra­dio terjadi dengan menggunakan media non fisis, yaitu udara. Proses yang terjadi di dalam komu-nikasi radio adalah memodulasi gelombang pembawa (carrier wave) dengan suatu sinyal pemodulasi (modulating wave), sehingga hasilnya adalah gelombang termodulasi (mo-dulated wave) yang akhirnya dipancarkan ke udara dengan menggunakan satu sistem antena. Ilustrasi gambar yang diberikan di atas ini adalah sistem antena pemancar MW (medium wave) RRI Pontianak yang bekerja dengan sistem modulasi AM (amplitude modulation).

Gelombang pembawa adalah satu sinyal sinusoidal yang selalu mempunyai frekuensi jauh lebih tinggi dari frekuensi spektrum sinyal pemodulasinya, yaitu yang termasuk ke-lompok radio fre­kuensi (RF). Sedang sinyal pemodulasi mempunyai spektrum fre­kuensi dari kelompok audio frequency (AF) sampai RF seperti misalnya sinyal video yang mempunyai spektrum hingga 5,5 MHz.

Sebetulnya proses modulasi juga terjadi pada sistem komunika­si yang lain, misalnya pada bidang telegrafi, yaitu sistem-VFT (Voice Frequency Telegraphy)[1] yang menggu-nakan frekuensi pada range frekuensi suara sebagai gelombang pembawanya . Juga pada sistem komunikasi serat optik[2], yang menggunakan sinar laser sebagai gelombang pem-bawanya .
Tanpa proses modulasi ini, sinyal pemodulasi yang lazim disebut sinyal informasi sulit untuk dikirimkan melalui komunika­si radio.  Terdapat dua alasan untuk hal tersebut, yaitu  :
ü  Karena sinyal informasi terdiri atau merupakan gabungan dari beberapa frekuensi tunggal yang relatif rendah frekuensinya, sehingga sistem antena yang digunakan harus mempunyai ukuran yang relatif panjang  dan juga harus broadband. Per-syaratan ini secara praktis tidaklah mungkin. Misalnya kita ambil saja salah satu frekuensi audio, 1000 Hz, maka ukuran antena ½ λ-nya sampai mencapai 3 x 105 meter atau 300 km.
ü  Karena sinyal informasi dari berbagai sumber mempunyai kombinasi yang sa-ma, maka tidak mungkin dipancarkan bersamaan sebab akan terjadi  interfe-rensi antara sumber-sumber tersebut satu sama lain.

Gelombang pembawa dalam bentuk umum dinyatakan sebagai,

eC   =  AC sin (ω t + θ),

yang merupakan nilai sesaat gelombang tersebut. Terlihat, bahwa nilai sesaat itu akan tertentu oleh tiga parameternya, yaitu, amplitude, frekuensi, dan fasa, yang da-pat dipengaruhi besarnya oleh satu sinyal pemodulasi. Inilah hakekat proses modu-lasi yang disebutkan diatas. Dengan demikian, pada sistem komunikasi radio dikenal tiga jenis modulasi, yaitu,

Modulasi Amplitude (AM = Amplitude modulation)
Modulasi Frekensi (FM = Frequency modulation)
Modulasi Fasa (PM = Phase modulasi)
B.  MACAM-MACAM FREKUENSI RADIO
Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat telah menghasilkan berbagai macam peralatan atau produk komunikasi. Peralatan komunikasi sangat membutuhkan frekuensi, agar dapat digunakan untuk berkomunikasi, Karena itu frekuensi harus dibagi-bagi atau dikelompokkan berdasarkan tipe atau jenis dan kebutuhan peralatan itu. Pembagian frekuensi ditetapkan oleh sebuah badan internasional CCRF (Committee Counsultative Radio Frequency), maka alokasi pembagian frekuensi ini pun bersifat universal. Kelompok frekuensi mulai dari yang terendah hingga tertinggi dan berlaku secara international adalah sebagai berikut;
6.5 – 17 GHz                           = Extremely High Frequency (EHF)
1.8  – 6.5 GHz                         = Super High Frequency (SHF)
300 – 850 MHz                       = Ultra High Frequency (UHF)
80 – 300 MHz                         = Very High Frequency (VHF)
2 – 30 MHz                             = High Frequency (HF)
500 – 1700 Khz                       = Middle Frequency (MF)
80 – 400 KHz                          = Low Frequency (LF)
10 – 30 KHz                            = Very Low Frequency (VLF)
             
Blok frekuensi itu kemudian dibagi lagi menjadi bagian-bagian frekuensi yang lebih kecil yang dinamakan saluran atau kanal frekuensi (channel) yang digunakan oleh suatu stasiun untuk melakukan penyiaran. Kanal frekuensi merupakan satuan terkecil dari spectrum frekuensi yang ditetapkan untuk suatu stasiun penyiaran. Kekuatan dan daya jangkau stasiun penyiaran ini sangat ditentukan oleh ukuran saluran frekuensinya dan posisi saluran tersebut pada spectrum frekuensi.
            Adapun kapasitas saluran frekuensi untuk kebutuhan komunikasi melalui telepon sudah cukup baik dengan mengunakan frekuensi 300-2,700 Hz. Dengan kapasitas frekuensi sebesar ini, suara lawan bicara melalui telepon sudah jelas terdengar. Kebutuhan frekuensi untuk penyiaran radio lebih tinggi lagi. Suara yang dikeluarkan radio tidak hanya cukup untuk sekedar bisa didengar tetapi memerlukan juga aspek keindahan suara. Suara penyanyi atau suara instrumen musik juga harus dapat didengar dengan baik, karena itu dibutuhkan sinyal dengan frekuensi yang lebih tinggi lagi, agar setiap unsur suara yang keluar dapat terdengar dengan baik.

datang dari mikropon. Selain itu, terdapat osilator frekuensi tinggi yang menyebabkan arus elektron bergetar bolak-balik sampai beberapa megahertz. Gelombang radio frekuensi tinggi ini, bekerja sebagai gelombang pembawa untuk membawa sinyal frekuensi audio yang berasal dari suara penyiar atau musik yang disiarkan. Perpaduan gelombang radio dengan gelombang audio dinamakan modulasi audio. Gelombang yang telah dimodulasikan ini nantinya akan dipancarkan oleh antena pemancar.

Pemancar radio memancarkan gabungan sinyal listrik frekuensi radio (RF) dan sinyal listrik frekuensi audio (AF). Sinyal frekuensi radio (FR) yang dibangkitkan osilator diperkuat oleh penguat RF, sedangkan sinyal frekuensi radio (AF) yang di bangkitkan mikrofon diperkuat oleh penguat AF. Penggabungan (modulasi) kedua jenis frekuensi tersebut terjadi dalam modulator. Modulator menghasilkan gelombang radio termodulasi yang merupakan gabungan dari sinyal RF (gelombang pembawa) dan sinyal AF (gelombang informasi). Gelombang radio termodulasi ini, kemudian diumpankan ke antena untuk dipancarkan ke seluruh penjuru dalam bentuk gelombang elektromagnetik dengan frekuensi tertentu.
Penggabungan frekuensi radio (RF) dengan frekuensi audio (AF) dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sistem AM (amplitudo modulation) dan sistem FM (frequency modulation). Sistem AM menghasilkan sinyal (RF) yang amplitudonya selalu berubah-ubah, namun frekuensinya tetap. Sistem FM menghasilkan sinyal RF yang frekuensinya berubah-ubah namun amplitudonya tetap.
            Saluran AM merupakan saluran yang pertama kali digunakan dalam teknolgi penyiaran. Menurut ketentuan internasional, saluran AM berada pada block frekuensi 300-3.000 KHz. Pada sistem AM, sinyal informasi mengubah-ubah amplitudo gelombang pembawa namun frekuensinya tetap. Dalam memancarkan sinyal, saluran AM memanfaatkan gelombang elektromagnetik bumi atau yang disebut dengan ground waves dan juga gelombang udara atau sky waves. Kedua jenis gelombang dapat membawa sinyal ke wilayah yang sangat jauh.
            Ground waves dapat membawa sinyal hingga 75 mil dari lokasi antena pemancar sementara sky waves mampu mencapai jarak 1.500 mil dari pemancar. Namun demikian, luas cakupan sinyal AM tergantung beberapa hal, seperti kekuatan pemancar, frekuensi yang tersedia, daya konduksi tanah (konduktivitas), jumlah interferensi yang muncul dan beberapa faktor lainnya.

BAB II TENTANG  PENYIARAN RADIO
Penyiaran adalah :

Pancaran melalui ruang angkasa oleh sumber frekuensi dengan sinyal yang mampu diterima di telinga atau didengar dan dilihat oleh publik.
(Chester, Garrison, Willis dalam buku “Television and Radio”)

Penyiaran merupakan bentuk pengiriman pesan melalui media televisi atau radio dengan tidak dikontrol secara teknik oleh penerima.
(Sullivan, Hartley, Saunders, Montgomery, Fiske dalam buku “Key Concept in Communication and Cultural Studies”)

                                                                                                                              
A.         SEKILAS SEJARAH PENYIARAN

Peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan siaran radio dan siaran televisi serta perkembangan teknologi informasi secara singkat :

1887 – Hertz seorang ahli fisika Jerman berhasil mengirim & menerima gelombang radio
1895 – Komunikasi radio tanpa kabel ditemukan oleh Marconi (Italia)
1896 – Tabung sinar kathode ditemukan oleh F. Braun (Jerman)
1920 – Ahli teknik bernama Frank Conrad (USA) membangun pemancar radio
1922 – Siaran radio dimulai di Amerika, Perancis, Cina, Jerman dan Uni Soviet
1923 – Vladimir Katejev Zworykin berhasil menciptakan sistem televisi elektris
1924 – Percobaan untuk televisi dilakukan oleh J.L. Baird (Inggris)
1926 – NBC (USA) berdiri dan membangun sistem radio jaringan
1927 – CBS (USA) berdiri
1929 – Siaran Percobaan BBC (Inggris)
1936 – Siaran TV dimulai oleh BBC (Inggris)
1939 – Percobaan siaran TV dimulai di Jepang (NHK)
1951 – Percobaan siaran TV berwarna di Amerika Serikat
1954 – Amerika menetapkan sistem siaran TV berwarna (NTSC)
1957 – Percobaan siaran TV berwarna oleh NHK
1960 – Siaran TV berwarna sistem NTSC dimulai di NHK
1965 – Siaran televisi dimulai di Indonesia (ASEAN games)
1967 – Siaran TV berwarna sistem PAL dimulai di Inggris, Jerman Barat, Belanda.
1967 – Siaran TV berwarna sistem SECAM dimulai di Perancis dan Uni Soviet
1969 – Apollo 11 (USA) berhasil mengirim gambar bulan yang berwarna
1976 – Satelit Palapa diluncurkan (Indonesia)
1977 – Siaran TV berwarna dimulai di Indonesia (sistem PAL)
2000 – Siaran TV digital dimulai di Amerika
2001 – Siaran TV satelit digital dimulai di Jepang
2003 – Siaran TV lewat pemancar di darat UHF/VHF dimulai di Jepang

Sejarah media penyiaran dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu sejarah media penyiaran sebagai penemuan teknologi dan sejarah media penyiaran sebagai suatu industri. Sejarah media penyiaran sebagai penemuan teknologi berawal dari ditemukannya radio oleh para ahli teknik di Eropa dan Amerika. Sejarah media penyiaran sebagai suatu industri dimulai di Amerika.

B. PERKEMBANGAN PENYIARAN RADIO

PERKEMBANGAN PENYIARAN RADIO DI DUNIA

Industri penyiaran radio diawali oleh David Sarnoff yang mendirikan perusahaan pembuat pesawat radio sistem AM yang bernama RCA atau Radio Corporation of America. Liputan kegiatan Pemilu pada tahun 1920 oleh Radio KDKA (USA) dianggap sebagai penyiaran berita pertama secara meluas dan teratur kepada masyarakat. Radio KDKA adalah stasiun penyiaran radio yang berizin komersial yang didirikan oleh Frank Conrad.
Perkembangan industri penyiaran radio FM dimulai ketika pertengahan tahun 1933, Edwin Howard Armstrong dari Universitas Columbia berhasil menemukan frekuensi modulasi (FM), frekuensi yang jauh lebih tinggi dari penyiaran radio AM (yaitu dari 88 sampai 108 MHz). Armstrong kemudian mendemonstrasikan penemuannya kepada David Sarnoff. Namun RCA ternyata lebih tertarik untuk mengembangkan televisi. Armstrong kemudian menjualnya kepada beberapa perusahaan lainnya. Pengembangan radio FM sempat tertunda karena meletusnya Perang Dunia ke 2 dan kalangan industri yang lebih tertarik mengembangkan televisi.

Keuntungan FM dari AM adalah :
1.     Dapat menghilangkan “interference” (gangguan, percampuran) yang disebabkan cuaca, bintik-bintik matahari atau alat listrik.
2.     Dapat menyiarkan suara sebaik-baiknya bagi telinga yang sensitif.
3.     Hasil audio yang lebih jernih, lebih dinamis dan noise yang rendah.

Prinsip dasar penyiaran radio FM adalah proses berubahnya suara penyiar menjadi sinyal listrik dengan menggunakan mikrofon yang kemudian digabung dengan sinyal pembawa frekuensi tinggi dan disiarkan ke radio penerima. Radio penerima menyaring sinyal pembawa tersebut dan menciptakan sinyal analog elektrik original, yang diubah oleh speaker menjadi energi suara.

Cakupan penyiaran FM dibatasi oleh garis pandang dari bagian puncak pemancar, maka FM lebih cocok untuk masyarakat di pusat kota daripada masyarakat di pedesaan.

FCC (Federal Communications Commision) memberikan wewenang operasional bisnis bagi penyiaran radio FM pada tahun 1941. Menjelang tahun 1947, hampir 1000 stasiun penyiaran radio FM diberikan izin atau melebihi jumlah stasiun penyiaran radio AM. Tetapi penyiaran radio FM pada masa itu mengalami beberapa masalah besar, permasalahan itu sebagai berikut:
1.     Tidak bisa didengar melalui penerima penyiaran AM tanpa pengubah khusus dan program AM tidak bisa diterima oleh perangkat radio FM. Hal ini berarti pendengar penyiaran radio FM hanya terbatas pada mereka yang membeli perangkat radio baru. Pada tahun 1947 perangkat penerima FM pada radio AM yang tidak mahal muncul di pasaran.
2.     Masalah pembuatan program FM dan dukungan iklan. Penyiaran radio FM tidak bisa menarik jumlah pendengar yang besar kecuali menawarkan program yang berbeda. Namun, penyiaran radio tidak bisa menarik iklan untuk membiayai program semacam itu kecuali telah memiliki pendengar. Beberapa industri penyiaran berusaha memecahkan dilema itu dengan menjiplak program penyiaran radio AM untuk penyiaran radio FM mereka. Tapi pemilik stasiun penyiaran radio FM independen merasa keberatan dengan praktik semacam itu karena akan menghalangi perkembangan penyiaran radio FM.
3.     Tidak adanya kontrol tuning otomatis dan buruknya kualitas perangkat murah penerima penyiaran radio FM membuat kecewa banyak pendengar.
4.     Penyiaran radio FM mendapatkan persaingan yang keras dari penyiaran radio AM yang sudah mengakar.

SEJARAH PENYIARAN RADIO DI INDONESIA

Perkembangan penyiaran radio di Indonesia diawali pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1925 oleh Prof. Komans dan Dr. De Groot yang berhasil melakukan komunikasi radio dengan menggunakan stasiun relai di Malabar, Jawa Barat. Peristiwa ini kemudian diikuti dengan berdirinya Batavia Radio Vereniging dan NIROM. Penyiaran radio di Indonesia dimulai dengan berkembangnya radio amatir yang menggunakan perangkat pemancar radio sederhana yang mudah dirakit. Tahun 1945, Gunawan berhasil menyiarkan naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan menggunakan perangkat pemancar radio sederhana buatan sendiri. Pada tahun 1966, mengudara radio Ampera yang merupakan sarana perjuangan kesatuan-kesatuan aksi dalam perjuangan orde baru.
Pada tanggal 11 September 1945, rapat yang dihadiri oleh para tokoh yang sebelumnya aktif mengoperasikan beberapa stasiun radio Jepang sepakat mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI). Rapat juga sepakat memilih Dokter Abdulrahman Saleh sebagai pemimpin umum RRI yang pertama.



BAB III SIFAT MEDIA PENYIARAN

Media penyiaran sebagai salah satu bentuk media massa memiliki ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya, bahkan diantara sesama media penyiaran, misalnya antara radio dan televisi, terdapat berbagai perbedaan sifat.

JENIS MEDIA
SIFAT
Cetak
-     dapat dibaca, dimana dan kapan saja
-     dapat dibaca berulang-ulang
-     daya rangsang rendah
-     pengolahan bisa mekanik, bisa elektris
-     biaya relatif rendah
-     daya jangkau terbatas
Radio
-     dapat didengar bila siaran
-     dapat didengar kembali bila diputar kembali
-     daya rangsang rendah
-     elektris
-     relatif murah
-     daya jangkau besar
Televisi
-     dapat didengar dan dilihat bila ada siaran
-     dapat dilihat dan didengar kembali, bila diputar kembali
-     daya rangsang sangat tinggi
-     elektris
-     sangat mahal
-     daya jangkau besar


Televisi dan radio dapat dikelompokkan sebagai media yang menguasai ruang tetapi tidak menguasai waktu, sedangkan media cetak menguasai waktu tetapi tidak menguasai ruang. Artinya siaran dari media televisi atau radio dapat diterima dimana saja dalam jangkauan pancarannya (menguasai ruang) tetapi siarannya tidak dapat dilihat kembali. Media cetak untuk sampai kepada pembacanya memerlukan waktu (tidak menguasai ruang) tetapi dapat dibaca kapan saja dan dapat diulang-ulang (menguasai waktu). Perbedaan sifat inilah yang menyebabkan adanya jurnalistik televisi, jurnalistik radio dan juga jurnalistik cetak, namun semuanya tetap tunduk pada ilmu induknya yaitu ilmu komunikasi.

Penyelenggaraan media penyiaran mempunyai kaitan erat dengan spektrum frekuensi radio dan orbit satelit geostasioner yang merupakan sumber daya alam yang terbatas sehingga pemanfaatannya perlu diatur secara efektif dan efisien.
Siaran adalah rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar,atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran. (menurut Undang-undang No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran)
Penyiaran adalah kegiatan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancaran dan/atau sarana transmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio (sinyal radio) yang berbentuk gelombang elektromagnetik yang merambat melalui udara, kabel, dan atau lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran. (menurut Undang-undang No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran)

Menurut definisi tersebut, terdapat lima syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk dapat terjadinya penyiaran. Kelima syarat tersebut adalah :
1.     Spektrum frekuensi radio
2.     Sarana pemancaran/transmisi
3.     Adanya siaran (program atau acara)
4.     Adanya perangkat penerima siaran (receiver)
5.     Dapat diterima secara serentak/bersamaan

Spektrum Frekuensi Radio

Spektrum frekuensi radio adalah kumpulan pita frekuensi radio yang berbentuk gelombang elektromagnetik serta memiliki lebar tertentu. Spektrum frekuensi radio terdiri atas kanal frekuensi radio yang merupakan satuan terkecil dari spektrum frekuensi radio yang ditetapkan untuk suatu stasiun radio.
Secara umum, frekuensi dapat didefinisikan sebagai jumlah pengulangan getaran dalam satu detik yang dihitung dalam satuan cycle atau Hertz.
Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat telah menghasilkan berbagai macam peralatan komunikasi yang sangat membutuhkan frekuensi agar dapat digunakan untuk melakukan komunikasi. Untuk itulah frekuensi harus dibagi-bagi atau dikelompokkan berdasarkan tipe atau jenis dan kebutuhan peralatan itu. Pembagian frekuensi ditetapkan oleh sebuah badan internasional agar berlaku secara global-universal dan berlaku di seluruh dunia.

10 – 30 KHz                      : very low frequency (VLF)
30 – 300 KHz                     : low frequency (LF)
300 – 3000 KHz                 : high frequency (HF)
3000 – 30.000 KHz             : very high frequency (VHF)
30 – 300 MHz                    : ultra high frequency (UHF)
300 – 3000 MHz                 : super high frequency (SHF)
3000 – 30.000 MHz            : extremely high frequency (EHF)

Blok frekuensi itu kemudian dibagi lagi menjadi bagian-bagian frekuensi yang lebih kecil yang dinamakan saluran atau kanal frekuensi (channel) yang digunakan suatu stasiun untuk melakukan penyiaran. Kanal frekuensi merupakan satuan terkecil dari spektrum frekuensi yang ditetapkan untuk suatu stasiun penyiaran. Kekuatan dan daya jangkau stasiun penyiaran ini sangat ditentukan oleh ukuran saluran frekuensinya dan posisi saluran tersebut pada spektrum frekuensi. Sebagai gambaran kapasitas saluran frekuensi untuk kebutuhan komunikasi melalui telepon sudah cukup baik dengan menggunakan frekuensi 300 – 2700 Hz. Dengan kapasitas frekuensi sebesar ini, suara lawan bicara melalui telepon sudah jelas terdengar. Kebutuhan frekuensi untuk penyiaran radio lebih tinggi lagi. Suara yang dikeluarkan radio tidak cukup untuk hanya sekedar bisa didengar tetapi memerlukan juga aspek keindahan suara.
Di Indonesia, pengaturan frekuensi dikelola oleh Departemen Perhubungan (Direktorat Frekuensi Radio dan Orbit Satelit, Ditjen Postel).

Dalam mendirikan stasiun penyiaran, frekuensi merupakan hal yang sangat penting dalam dunia penyiaran, sebab betapapun hebatnya suatu program siaran, tanpa diikuti kualitas yang bagus pada perambatan gelombang elektromagnetik yang membawa sinyal gambar atau suara maka akan sulit menjaring audien yang banyak. Selain itu perencanaan yang matang untuk mendirikan stasiun penyiaran antara lain : memperkirakan tinggi menara yang harus dibangun, mengukur ketinggian permukaan tanah, jenis antena, dan kekuatan pemancar.

Dalam penyiaran televisi, terdapat tiga standar sistem penyiaran yaitu :
1.     NTSC (National Television Standards Committee) digunakan di Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea dan Meksiko.
2.     PAL (Phase Alternating by Line) digunakan di sebagian Asia termasuk Indonesia, Australia, Cina, Amerika Selatan, dan sebagian Eropa.
3.     SECAM (Sequential Couleur avec Memoire) digunakan di Perancis, Asia tengah dan beberapa negara Afrika.

Perbedaan kebijakan standar sistem penyiaran ini terjadi karena :
-       Jumlah bingkai gambar per detik (fps) yang digunakan
Dalam kelompok PAL dan SECAM menetapkan standar fps (frame per second) sebanyak 25, sementara kelompok NTSC menetapkan sebanyak 30. Penetapan ini berdasarkan patokan tingkat arus listrik rumah tangga.
-       Jumlah garis pada setiap frame-nya
Kelompok PAL dan SECAM menetapkan sebanyak 825 garis per detik, sedangkan kelompok NTSC menetapkan 525 garis per detik. Faktor ini cukup mempengaruhi tingkat resolusi gambar.
-       Jumlah frekuensi yang digunakan
Kelompok PAL dan SECAM menetapkan lebar pita frekuensi (bandwidth) sebesar 7 MHz dan lebar pita frekuensi sebesar 6 MHz. Tentang ketetapan lebar pita frekuensi ini, cenderung lebih mudah berubah-ubah, bahkan di setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda tergantung dari kebutuhan.


BAB IV PERUBAHAN PRODUKSI PROGRAM MEDIA PENYIARAN

A.  SISTEM SIARAN

Secara garis besar acara televisi dapat dibagi dua kelompok yaitu siaran langsung dan siaran rekaman. Siaran langsung mengutamakan sifat aktualitas seperti olahraga, rapat-rapat yang bersifat besar dan aktual. Untuk siaran rekaman seperti drama, dokumenter, acara pendidikan adalah acara yang gambar dan suaranya diedit lebih dahulu.
Awalnya siaran langsung melewati jaringan telepon atau gelombang mikro sehingga mutunya kurang memadai. Saat ini siaran langsung menggunakan teknologi komunikasi yang canggih seperti satelit, jaringan serat optik, jaringan internet dan sebagainya. Berkat kemajuan teknologi digital yaitu semi konduktor, teknologi komputer, teknologi perangkat lunak dan lain-lainnya memungkinkan terwujudnya komunikasi yang berkapasitas besar, berkecepatan tinggi serta bermutu tinggi dan dapat dipancarkan dari jarak yang sangat jauh.

B. SISTEM REKAMAN

Cara menyimpan atau merekam suara dan gambar saat ini mengalami perubahan yang besar. Dahulu suara direkam pada piringan hitam, kaset, demikian juga untuk gambar direkam dalam kaset, tetapi saat ini suara dan gambar disimpan dalam bentuk CD (compact disk) atau dalam HD (hard disk).

C. SISTEM EDITING

Cara editing sinyal gambar dan sinyal suara semenjak diketemukan sistem penyimpanan dengan CD serta hard disk, sistem editing menjadi sangat mudah dan tidak mengalami penurunan mutu gambar atau suara. Faktor inilah salah satu yang menyebabkan teknologi digital menjadi unggul. Untuk sinyal gambar sistem editing ini populer dengan sebutan editing non linier.

D. SISTEM PENGOLAHAN

Pengolahan gambar dengan komputer grafik sangat memegang peranan yang penting di sini. Oleh karena itu operator editing, komputer grafik tidak hanya dituntut sistem operasinya saja tetapi juga dituntut mempunyai kemampuan seni dan imajinasi dalam menciptakan gambar-gambar.



BAB V TEKNIK PENYIARAN RADIO

Dalam produksi siaran radio terdapat proses pemancaran sinyal frekuensi audio dengan menggunakan gelombang radio. Gelombang dengan frekuensi radio ini, disebut gelombang pembawa (carrier wave). Amplitudo dan frekuensi gelombang dapat berubah-ubah menurut irama sinyal yang hendak disiarkan. Perubahan amplitudo ini disebut dengan modulasi.

Tiga komponen utama dalam pemancar radio :
1.     Mikropon
2.     Rangkaian pemancar
3.     Antena
Proses kerja rangkaian pemancar disebut sebagai modulasi (perpaduan gelombang radio dan gelombang audio). Penggabungan frekuensi radio (RF) dengan frekuensi audio (AF) dapat dilakukan dengan dua cara yaitu sistem AM (amplitudo modulation) dan sistem FM (frequency modulation). Sistem AM menghasilkan sinyal RF yang amplitudo-nya selalu berubah-ubah namun frekuensinya tetap. Sistem FM menghasilkan sinyal RF yang frekuensi berubah-ubah namun amplitudo-nya tetap.

AM (amplitudo modulation)

Saluran AM adalah saluran yang pertama kali digunakan dalam teknologi penyiaran. Menurut ketentuan internasional, saluran AM berada pada blok frekuensi 300-3000 KHz. Dalam memancarkan sinyal, saluran AM memanfaatkan gelombang elektromagnetik bumi atau yang disebut dengan ground waves dan juga gelombang udara atau sky waves. Kedua jenis gelombang dapat membawa sinyal ke wilayah yang sangat jauh. Cakupan sinyal AM tergantung beberapa hal, seperti kekuatan pemancar, frekwensi yang tersedia, daya konduksi tanah, jumlah interferensi yang muncul.

FM (frequency modulation)

Saluran FM ditetapkan secara internasional berada pada blok frekuensi VHF yaitu 30-300 MHz. *Stasiun TV di Indonesia menggunakan frekuensi dalam rentang 470 – 890 MHz / UHF. Di Indonesia rentang pita frekuensi radio yang digunakan untuk siaran radio FM berada pada rentang pita frekuensi 87,5 MHz - 108 MHz sedangkan pengkanalan frekuensi yang digunakan adalah kelipatan 100 KHz. Berdasarkan ketentuan ini, maka rentang pita frekuensi (bandwidth) yang diperoleh adalah sebesar 20.5 MHz (108 MHz dikurangi 87.5 MHz).
Propagansi atau arah penyebaran sinyal FM bersifat langsung (direct) menuju ke receiver. Transmisi siaran FM memiliki pola cakupan siaran yang stabil dengan bentuk dan tingkat atau ukuran frekuensi tergantung pada : daya watt listrik, ketinggian tiang transmisi, bentuk permukaan daratan.
Kekurangan stasiun FM dibandingkan MW atau SW adalah daya jangkau siarannya yang lebih terbatas. Karena penyebarannya sinyal FM bersifat lurus dan langsung, maka daya jangkau FM sebatas horizon yaitu permukaan bumi datar. Dengan demikian siaran FM dapat terganggu jika terdapat penghalang terhadap jalannya sinyal seperti bukit atau gedung tinggi.
Beberapa faktor yang menyebabkan kualitas suara FM sangat bagus yaitu:
1.     Pita frekuensi VHF yang digunakan stasiun FM memiliki sifat yang tidak mudah terpengaruh oleh gangguan atmosfir.
2.     Lebar pita frekuensi saluran FM 20 kali lebih lebar dibandingkan FM yang memungkinkan untuk menghasilkan suara yang mencapai 15.000 cycle per detik sehingga mampu menghasilkan suara dengan tingkat kejernihan suara yang lebih tinggi. Selain itu, saluran frekuensi yang lebar ini memungkinkan stasiun pemancar mengirimkan suara stereo.

SW (short wave)

Saluran short wave atau gelombang pendek biasanya digunakan stasiun penyiaran untuk mencapai jarak yang sangat jauh. Saluran ini dapat digunakan untuk mengirim sinyal dari pemancar yang berasal dari salah satu belahan bumi ke penerimanya yang berada di belahan bumi lainnya. Saluran SW berada pada blok frekuensi 3 – 25 MHz yang terletak antara posisi frekuensi AM dan FM. Saluran ini banyak dipakai oleh stasiun radio internasional.
Sinyal pada saluran SW dikirimkan menempuh jarak yang sangat jauh dengan menggunakan gelombang udara (skywaves) yang berada pada lapisan ionosphere.

BAB VI KONSEP PRODUKSI ACARA RADIO

Produksi siaran radio mengandung beberapa kekuatan utama media, antara lain :
a.     Sebagai kekuatan sosial
Dalam pembuatan programnya bisa mengandung hubungan kepentingan yang baik maupun kepentingan yang buruk bagi masyarakat. Acara-acara yang ditawarkan oleh penyiaran radio biasanya mencerminkan ”need and wants” yang bernilai bagi masyarakat.
b.     Sebagai alat penting media periklanan
Dalam penyiaran radio, yang memiliki kemampuan untuk meyakinkan pendengar, mengandung tujuan agar masyarakat mendengarkan promosi produk sehingga berdampak pada penjualan produk tersebut. Karena itu, perkembangan penyiaran radio masa kini, lebih berorientasi kepada industri penyiaran yang menghasilkan atau mendapatkan uang.
c.     Sebagai sumber informasi
Penyiaran radio juga berfungsi sebagai sumber informasi utama untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Selain hiburan atau musik, acara berita atau informasi adalah jenis program yang disukai oleh masyarakat.
Secara etika, memang radio memiliki kelebihan dengan koran – ”jika stasiun radio menyiarkan berita atau informasi yang menarik dan disukai oleh pendengar, hal ini bisa digunakan sebagai alat untuk meningkatkan jumlah nilai jual bagi stasiun penyiaran radio yang bersangkutan.”


BAB VII STRUKTUR ORGANISASI PENYIARAN RADIO

Sebelum membahas tentang struktur organisasi penyiaran radio, terlebih dahulu akan dijelaskan tentang bidang kerja di radio secara umum.
a.     Perencanaan siaran
b.     Administrasi siaran
c.     Produksi siaran (jurnalistik dan hiburan)
d.     Promosi/pemasaran siaran
Dalam menentukan team radio, ada beberapa tipologi broadcaster yang didambakan yaitu kreatif, intelek, komunikatif, rajin, disiplin, motivator tim dalam bekerja, dan mampu menjadi contoh.

Struktur departemen dari stasiun penyiaran radio sangat bervariasi disesuaikan dengan ukuran. Dalam struktur organisasi dengan tipe stasiun penyiaran ukuran sedang (medium-size radio station), strukturnya adalah sebagai berikut :
1.     General Manager
2.     Sales Manager
3.     Program Director
4.     News Director
5.     Chief Engineer

Dalam tingkatan manajer ini memiliki tanggung jawab akan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan stasiun penyiaran radio, pemeliharaan hubungan dengan komunitas, serta monitoring isi program, jumlah pendengar, dan informasi penjualan.

Seorang General Manager mempunyai tanggung jawab menyusun rencana kerja stasiun penyiaran radio, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang. Selain itu mengarahkan dan mengelola pengembangan dan penerapan rencana kerja sekaligus mengawasi, mengevaluasi kerja stasiun penyiaran radio secara menyeluruh untuk memenuhi pencapaian sasaran pendengar dan sasaran penjualan dengan memperhatikan efektivitas operasional stasiun penyiaran radio.

Sales and Promotion Manager memiliki fungsi merencanakan dan mengelola kegiatan promosi dan penjualan stasiun penyiaran radio sesuai dengan strategi promosi yang telah ditentukan, serta mengarahkan segala aktivitas penjualan untuk mencapai target penjualan yang telah ditetapkan oleh perusahaan.

Program Director memiliki tanggung jawab untuk merumuskan dan menetapkan programming penyiaran radio yang memenuhi bentuk format penyiaran radio yang telah ditetapkan oleh perusahaan termasuk aspek-aspek pendukung keberhasilan penyiaran radio, dengan memperhatikan kebutuhan pendengar sekaligus kebutuhan pengiklan.

Tiga belas kerangka dasar untuk optimalisasi kerja seorang pengarah program antara lain :
1.     Monitoring (memonitor)
2.     Act (bertindak)
3.     Create (mencipta)
4.     Involve yourself with your people (libatkan diri anda dengan semua karyawan anda)
5.     Get input (cari masukan)
6.     Be aware of the competition (selalu siapkan diri anda dalam hubungan dengan persaingan atau kompetisi)
7.     Involve yourself in the community (libatkan diri dalam komunitas)
8.     Be postive (selalu bersikap positif)
9.     Share (selalu mau berbagi)
10.  Review your goal (ricek tujuan)
11.  Set an example (berikan contoh)
12.  Be conscious (selalu sadar akan biaya yang anda keluarkan/hemat)
13.  Do something (lakukan sesuatu)

Pada umumnya, stasiun penyiaran radio terbagi dalam empat departemen, yaitu :
1.    Sales Department
Staf       : Sales Manager, Sales Staff
Tugas    : Bertanggung jawab akan penjualan air time.
2.    Program Department
Staf       : Program Director, Announcer, Copywriter, Scriptwriter, Production, Music Library
Tugas    : Bertanggung jawab untuk output siaran dan supervisi musik atau materi acara lain untuk kelangsungan penyiaran dan juga bertanggung jawab performa penyiar atau DJ.
3.    News Department
Staf       : News Director, Newscaster, Reporters, Writers
Tugas    : Bertanggung jawab untuk mengumpulkan, menulis, dan menyiarkan berita-berita atau informasi baik lokal, nasional, maupun internasional.
4.    Engineering Department
Staf       : Chief Engineer, Staff Engineer, Maintenance
Tugas    : Bertanggung jawab untuk menjaga stasiun penyiaran radio mengudara dan memelihara keseluruhan peralatan penyiaran yang dimiliki oleh stasiun.

Model struktur organisasi radio di Indonesia secara umum dapat digambarkan berikut :
Top Management “PLANNER” – Middle Management “ORGANIZER” – Low/Front Management “OPERATOR”


Karakteristik Format stasiun menurut Michael C. Keith :

FORMAT
KARAKTERISTIK
Adult Contemporary (AC)
Untuk kaum muda dan dewasa dengan rentang umur sangat luas antara 25-50 tahun, berdaya beli tinggi. Menyiarkan musik pop masa kini, soft rock, balada. Menyiarkan berita olahraga, ekonomi, politik.
Format AC ini berkembang ke format lain seperti Middle of the Road, Album Oriented Rock dan Easy Listening.
Contemporary Hit Radio (CHR)
Untuk pendengar dengan rentang usia 12-20 tahun. Format paling populer yang berisi lagu baru, dan terlaris. Menyiarkan berita seputar gosip idola dan tips praktis. Sebelum CHR awalnya disebut TOP 40 Radio. CHR bisa disebut sebagai radio yang ketat memutar 30 rekaman terkini, bukan album lama, tidak memutar ulang sebuah lagu yang sama secara berdekatan, perpindahan antarlagu sangat cepat.
All News/All Talks
All Talks lebih dulu hadir pada tahun 1960 di Los Angeles dengan konsep siaran talk show interaktif mengupas isu-isu lokal. All News hadir kemudian tahun 1964 dimotori Gordon McLendon di Chicago dengan konsep berita buletin 20 menit berisi berita lokal, regional, dan dunia. Sasaran radio ini kaum muda dan dewasa berumur 25-50 tahun, berdaya beli tinggi. Berita dan bincang ekonomi-politik menjadi unggulan.
Classic/Oldies
Untuk kalangan dewasa dan tua berumur 35-60 tahun. Memutar lagu-lagu klasik, apresiasi penyanyi dan lirik lagu lebih penting dari lagunya. Menyiarkan berita kilas balik masa lalu, berita mistik. Oldies juga mencakup segmen beragam pada level ekonomi menengah ke bawah dengan dominasi musik dangdut dan kolaborasi

Setelah menentukan format stasiun, pekerjaan berikutnya bagi perencana siaran adalah menentukan berbagai jenis program yang akan ditawarkan kepada pendengar. Dalam dua puluh tahun terakhir, jenis program siaran populer di berbagai negara termasuk di Indonesia adalah :
1.     Musik (Penyusunannya berdasarkan geografis, penyanyi dan jenis musik)
2.     Berita dan Informasi (Dua model kemasannya adalah live report dan rekaman)
3.     Bertutur interaktif (Beberapa contoh programnya adalah song request, opini, kuis, gosip, games)
4.     Diskusi publik (Melalui talk show, radio menjadi sarana untuk menyampaikan gagasan dan kritik terhadap situasi sosial, ekonomi dan politik)

BAB VIII RADIO SIARAN

Radio siaran (radio broadcast) ialah salah satu aspek dari komunikasi massa. Dalam proses komunikasi sosial, peran ideal radio sebagai media publik adalah sebanyak mungkin mampu mewadahi kebutuhan dan kepentingan pendengarnya.
Tiga bentuk kebutuhan dasar pendengar :
1.     Informasi
2.     Pendidikan
3.     Hiburan
Sebagai media massa, radio siaran mempunyai ciri dan sifat yang berbeda dengan media massa lainnya. Radio merupakan media auditif (hanya bisa didengar), murah, merakyat dan bisa dibawa atau didengarkan dimana-mana.
Radio berfungsi sebagai media ekspresi, komunikasi, informasi, pendidikan dan hiburan. Radio memiliki kekuatan terbesar sebagai media imajinasi sebab sebagai media yang buta, radio melakukan stimulasi begitu banyak suara dan berupaya memvisualisasikan suara melalui telinga pendengarnya.

Sifat radio siaran :
a.     Auditori, pesannya hanya bisa didengar saja.
b.     Mengandung gangguan, berupa semantic noise, channel noise dan interferensi.
c.     Intim, bersifat akrab.

Sifat pendengar radio :
a.     Heterogen, memiliki latar belakang yang berbeda dan tersebar dimana-mana.
b.     Pribadi, komunikator radio seolah-olah bertamu ke kamar pendengar.
c.     Aktif, pendengar aktif berpikir dan melakukan interpretasi terhadap isi siaran.
d.     Selektif, pendengar memiliki program dan channel yang disukainya.

Ditinjau dari isi siarannya, penyajian acara radio siaran secara umum dibagi menjadi dua yaitu :
1.     Berita
2.     Non berita

BAB IX PENATAAN ACARA RADIO

Ketika para pengelola stasiun penyiaran radio merencanakan untuk beroperasi, salah satu faktor yang perlu menjadi kajian khusus adalah cara menetapkan target pendengar. Dalam upaya pencapaian target pendengar tersebut diperlukan “programming” atau penataan acara. Dan, penataan itu sendiri merupakan sebuah proses mengatur program demi program termasuk penjadwalannya sehingga terbentuk station format dengan tujuan menciptakan image stasiun penyiaran radio.
Perencanaan programming yang baik akan mempengaruhi pengembangan citra dan reputasi brand terhadap pendengar. Jika rating pendengar baik, lamanya mendengarkan, maka akan sangat berdampak pada sirkulasi massa yang memang dicari oleh pemasang iklan. Rating digunakan untuk mengukur efektivitas penggunaan media, rating menunjukkan bagian dari sejumlah individu yang mendengarkan suatu acara pada suatu waktu tertentu. Jika perolehan pemasukan dari pemasang iklan baik, maka hal ini menunujukkan operasional program penyiaran yang berhasil. Bagian program, pemberitaan, teknik, dan penjualan dalam sebuah stasiun penyiaran radio perlu memiliki ”programming leadership”.

Karakteristik fungsi programming (beberapa hal yang harus dipahami untuk seorang programmer) :

1.     Fungsi programming memang sangat sulit jika dikaji dari ukuran keakuratannya (difficult to size accurately). Sistem penyiaran radio di Amerika Serikat menyebutkan Morning Drive, Daytime, Afternoon Drive, Night Time, Overnight.
2.     Fungsi programming adalah berkesinambungan (continuous). Stasiun penyiaran radio dalam melakukan siarannya tidak hanya dengan satu atau dua program saja, sejak “sign on” hingga ”sign off”.
3.     Fungsi programming adalah persaingan yang luar biasa (extremely competitive) banyak stasiun penyiaran radio yang membidik dengan target pendengar yang sama, karena jumlah radio saat ini sudah semakin banyak. Kreatifitas menjadi hal penting dalam memenangkan persaingan ini.
4.     Fungsi programming adalah menjaga stabilitas dalam jadwal program. Hal ini merupakan upaya untuk mengembangkan kebiasaan mendengarkan. Semakin lama waktu pendengar mengikuti program, maka akan dapat berdampak kepada lamanya pemasang iklan melakukan promosi juga.
5.     Fungsi programming adalah mencari dan memperoleh ide dan materi kreatif, yang bisa didapat dari berbagai sumber yang memungkinkan. Hal ini berfungsi untuk mengembangkan ide-ide, bentuk program baru, dan memelihara imajinasi pendengar.
6.     Fungsi programming adalah spekulasi yang sangat tinggi (highly speculative). Programming bisa diibaratkan hal yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata (idenfinable) dan aspek yang tidak dapat menyentuh (intangible) daya tarik pendengar.

Dengan pemahaman keenam fungsi di atas seorang Program Director yang baik, paling tidak akan memiliki kemampuan mengevaluasi aspek ”idenfinable” dan ”intangible” daya tarik pendengar. Analisa evaluasi yang berhasil biasanya didukung oleh beberapa faktor antara lain pengetahuan yang luas dari berbagai sumber, memahami bisnis penyiaran radio secara umum, dan memahami pembiayaan membuat program. Dengan pemahaman ini seorang Program Director akan dapat mengevaluasi dan dapat menjalankan seluruh risiko pekerjaan sulit dengan tingkat keberanian yang tinggi.

Tujuan program stasiun penyiaran radio komersial adalah untuk menyiarkan atau mengudarakan sesuatu yang bisa menarik perhatian pendengar, kemudian bisa ”dijual” kepada para pengiklan. Dalam menyusun format acara, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mencakup : geografis-demografis-pskografis-perilaku-individu, positioning.
Elemen-elemen pendukung format acara :
1.     Musik
2.     Kata-kata
3.     Identitas stasiun
4.     Iklan
5.     Gaya siaran
6.     Penjadwalan acara

Elemen-elemen acara yang sudah tersusun dengan baik, dalam kepenyiaran disebut ”hot clock” atau ”format wheel”.
Selain format musik, format lain yang bisa kita pertimbangkan dalam menyusun penataan acara, misalnya : format berita, debat, wawancara, surat pendengar, phone in, komentar, sport, kuiz, tanya jawab, dan voxpops.

Beberapa contoh format :
TOP 40 atau CHR (Contemporary Hit Radio)
Disusun dari rekaman-rekaman musik yang paling populer yang disajikan kepada pendengar remaja belasan tahun dan usia awal dua puluhan.
ADULT CONTEMPORARY
Merupakan format dengan penggunaan lagu kontemporer dewasa untuk pendengar dewasa dengan musik modern.

BAB X PENGGOLONGAN JENIS-JENIS ACARA SIARAN

Pada umumnya terdapat dua metode penggolongan acara siaran :

1.     Menurut unsur acara siaran
-       siaran kata (news features, dramas, talks and discussions, etc.)
-       siaran seni suara (serious music, light music, dance, variety, etc.)

2.     Menurut tujuan acara siaran

Berikut ini adalah penggolongan jenis-jenis acara siaran (menurut UNESCO) :

A.     Siaran pemberitaan dan penerangan (News and Information Programmes)
-       warta berita (straight news)
-       reportase (current affairs)
-       penerangan umum (general information)
-       pengumuman (public service)
B.     Siaran pendidikan (Educational Programme)
-       siaran anak-anak
-       siaran remaja
-       siaran sekolah
-       siaran pedesaan
-       siaran keluarga berencana
-       siaran agama
-       ruangan wanita
-       pengetahuan umum
C.     Siaran kebudayaan (Culture Programme)
-       sastra (literature)
-       kesenian daerah (folklore)
-       apresiasi seni (art appreciation)
D.    Siaran hiburan (Entertainments)
-       musik daerah (local music)
-       musik indonesia (national music)
-       musik asing (foreign music)
-       hiburan ringan (light entertainment)
E.     Siaran lain-lain (Miscellaneous)
-       ruangan iklan (commercial spot announcement)
-       pembukaan / penutup siaran (opening/closing tune)

Berita Viral Terkini